MPKD UGM. Publikasi selanjutnya Disusun oleh : Hilal NIM : 09/295379/PTK/06595 Dengan Judul : Kawasan Lar Di Kabupaten Sumbawa (Lar Area In Sumbawa Regency). Sebagai Pembimbing Utama : Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D. dan Pembimbing Pendamping : Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A. Masyarakat Sumbawa mempunyai tradisi beternak di lar. Tradisi beternak ini merupakan kebiasaan yang sudah melekat sejak lama dan dipraktekkan secara turun temurun.
Tradisi beternak masyarakat Sumbawa sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan tradisi bercocok tanam didalam kehidupan sehari-harinya. Masyarakat menyiasati kondisi alam secara arif yang memang dominan pertanian tadah hujan disamping karena beriklim tropik lembab, banyak terdapat padang rumput (lar). Ketika musim hujan/musim tanam datang, masyarakat terlebih dahulu mengantar hewan ternaknya ke lar dengan tujuan agar kegiatan bercocoktanam dengan pola basiru dapat berlangsung dengan baik. Di samping itu menjauhkan hewan ternak agar tidak mengganggu tanaman yang sengaja ditanam oleh masyarakat di lahan pertaniannya.
Pemanfaatan lar sebagai kawasan pengembalaan bersama masyarakat yang bersandar pada konsensus sosial nampak keberadaannya mulai terancam. Ini tidak lain karena perkembangan peradaban manusia semakin cepat dan memaksa untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian. Perubahan tradisi bercocok tanam yang notabene sangat berkaitan dengan tradisi beternak memberi pengaruh yang cukup kuat dalam sistem beternak masyarakat yang selama ini di praktekkan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan konsep ruang pengelolaan kawasan lar berbasis nilai-nilai tradisi pola beternak masyarakat Sumbawa. Penelitian ini bersifat deduktif dan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologi.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa tradisi beternak dan bercocok tanam merupakan dua hal yang saling melengkapi satu sama lain.
- Pertama; bahwa tradisi bercocok tanam dengan pola basiru sesungguhnya telah ikut andil membentuk tradisi beternak di kawasan lar.
- Kedua; bahwa masyarakat menyadari sistem beternak dengan melepas ternak di lar memiliki konsekwensi sewaktu-waktu ternak meninggalkan kawasan lar karena berbagai sebab. Persoalan ini disikapi oleh masyarakat dengan tradisi memagari lahan pertaniannya agar ternak tidak masuk dan mengganggu tanaman di dalamnya. Hal ini kemudian membentuk pola spasial akibat dipicu oleh pergerakan ternak keluar dari kawasan lar.
- Ketiga; bahwa lar sebagai kawasan yang di kelola secara bersama berdasar pada konsensus sosial sejauh ini tetap berjalan dengan baik dan tanpa ada penguasaan individu di dalamnya.
- Keempat; Bahwa pengelolaan lar bersandar pada konsensus sosial lambat laun akan tergerus jika tidak mengalami penguatan-penguatan, untuk itu pemerintah mencoba mengembangkan lar dengan pola berbeda namun tetap berbasis sumberdaya dan kearifan lokal sebagai bentuk penyesuaian terhadap perkembangan zaman. Dengan tujuan agar lar tetap lestari.
Pembaca web MPKD UGM silahkan untuk berbagi tulisan dan tanggapan yang bersifat positif dan membangun. Untuk komentar silahkan anda masukan di bawah tulisan atau anda bisa menyebarkan tulisan ini dengan mengklik ikon bagikan ini dan beri penilaian dengan like this. Anda juga bisa masuk di page mpkd dengan alamat sebagai berikut : Page MPKD UGM. Serta kunjungi juga groupnya MPKD di Magister Perencanaan Kota & Daerah di facebook. Pembaca yang budiman selain melalui google drive, naskah publikasi ini bisa juga di akses melalui website : http://etd.ugm.ac.id.